Kyoto Styudy

Bagi Anda yang ingin belajar di Kyoto Bagi pelajar internasional di Kyoto

Wawancara Alumni

Ayo dengarkan langsung pendapat pelajar internasional.

“Dari Kyoto ke seluruh dunia, melampaui batas melalui manga”

Dosen tetap pada Faculty of Global Culture, Kyoto Seika University / Afiliasi: International Manga Research Center, Kyoto Seika University

Yoo Sookyung (asal Korea Selatan)

Pendidikan:Lulusan Kyoto Seika University, Faculty of Art and Design Department of Manga, Story Manga Course

* Wawancara dilakukan pada tahun 2025

Apa yang menjadi alasan Anda memutuskan untuk studi di Kyoto?

Waktu SMA, saya bersekolah di Korea Animation High School dan sejak saat itu memang sangat menyukai manga Jepang. Melihat ketertarikan saya yang begitu besar, ibu saya pernah berkata, “Kalau memang kamu suka sekali, kenapa tidak mencoba belajar langsung di Jepang dan mempelajari manga di tempat asalnya?” Dari situlah saya mulai mencari universitas di Jepang yang menawarkan studi tentang manga. Pada saat itu, Kyoto Seika University merupakan satu-satunya universitas yang menyediakan program studi manga dalam jenjang empat tahun. Karena itulah saya memutuskan untuk melanjutkan studi ke sana. Jadi sebenarnya, tidak ada alasan khusus mengapa saya memilih Kyoto sebagai kota tujuan—lebih karena perasaan bahwa “hanya di sinilah tempatnya.” Namun melihat ke belakang, saya merasa keputusan itu benar-benar tepat.

Apa pengalaman paling berkesan dan paling menantang selama studi di Kyoto?

Hal yang paling menantang tentu saja adalah hidup jauh dari keluarga. Saya datang ke Jepang saat berusia 18 tahun, dan rasa rindu pada rumah memang tidak bisa dihindari. Meski begitu, karena datang di usia yang relatif muda, ada bagian dari diri saya yang menerima kondisi itu sebagai sesuatu yang wajar. Sementara itu, hal yang paling saya syukuri dari tinggal di Kyoto adalah bagaimana kota ini secara alami menerima keberagaman. Sebagai orang asing, saya tidak diperlakukan secara berlebihan atau berbeda, sebab ada suasana bahwa kehadiran orang asing adalah hal yang biasa. Rasa nyaman itulah yang hingga kini masih saya rasakan.

Apa yang mengantarkan Anda ke pekerjaan yang dijalani saat ini?

Awalnya, saya adalah mahasiswa di Kyoto Seika University, tepatnya di Faculty of Art and Design, Department of Manga (saat ini dikenal sebagai Faculty of Manga, Department of Manga), Story Manga Course. Saya masuk dengan tujuan menjadi seorang mangaka. Namun selama proses belajar, saya mulai tertarik pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendasar, seperti bagaimana simbol-simbol visual dalam manga lahir dan bagaimana mereka berubah seiring waktu. Ketertarikan tersebut mendorong saya untuk melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana, hingga program magister dan doktoral. Menjelang penyelesaian disertasi doktoral, dosen pembimbing saya memperkenalkan kesempatan bekerja di Kyoto International Manga Museum. Dari sanalah perjalanan karier saya berlanjut hingga sekarang. Jadi, alih-alih sebuah keputusan karier yang besar dan tiba-tiba, semuanya terasa mengalir secara alami.

Dapatkah Anda menjelaskan isi pekerjaan Anda saat ini?

Secara garis besar, pekerjaan saya terbagi menjadi dua bidang utama. Pertama adalah mengajar di universitas. Saya mengajar di Faculty of Global Culture, Department of Global Studies, Japanese Studies Course di Kyoto Seika University. Di sana, saya membimbing mahasiswa yang ingin mempelajari budaya populer, khususnya manga dan anime, dari perspektif teoretis dan akademik.
 
Bidang kedua adalah kegiatan di International Manga Research Center. Saya terlibat dalam perencanaan pameran dan acara di museum manga yang dikelola oleh Kyoto Seika University, serta menangani berbagai konsultasi proyek terkait manga yang datang dari dalam dan luar negeri. Dalam kasus saya, keterlibatan dalam proyek kolaborasi internasional cukup sering terjadi. Belakangan ini, saya juga menerima permintaan dari Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (OHCHR) untuk merancang sebuah pameran manga bertema hak asasi manusia. Pameran ini pertama kali ditampilkan dalam rangka Osaka–Kansai Expo, dan saat ini sedang dipamerkan di museum manga. Ke depannya, pameran ini direncanakan akan berkeliling ke berbagai daerah sebagai pameran keliling.


Suasana pameran dengan tema “Merenungkan Isu Hak Asasi Manusia lewat Manga” yang dikurasi oleh Yoo-san.

Kapan Anda merasa paling puas dan bersemangat dalam pekerjaan saat ini?

Karier saya berawal dari posisi sebagai “sekadar penggemar manga”. Karena itu, bisa bertemu dengan orang-orang yang sama-sama mencintai manga di berbagai belahan dunia, bekerja bersama melalui manga, dan saling berbincang tentangnya, adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya.
Bahkan ketika bahasa tidak sepenuhnya saling dipahami, ada momen ketika hati bisa terhubung hanya dengan membicarakan karya yang sama-sama kita sukai. Bisa menemukan “titik temu” dengan orang-orang yang tumbuh dalam latar budaya yang sama sekali berbeda—itulah daya tarik terbesar dari pekerjaan ini menurut saya.

Negara mana saja yang paling sering bekerja sama dengan Anda?

Yang paling sering tentu negara-negara berbahasa Prancis. Selain itu, saya juga banyak bekerja sama dengan Jerman, Italia, Finlandia, Yunani, Inggris, Kanada, Amerika Serikat, Australia, India, Taiwan, dan Korea Selatan.
Belakangan ini, kerja sama dengan negara-negara Afrika berbahasa Prancis juga semakin berkembang. Di Museum Manga pun, kami merancang dan menyelenggarakan pameran “Manga Afrika”—yang merupakan pameran pertama di Jepang—pada tahun 2023.

Area khusus untuk membaca manga dari berbagai negara di dunia yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang.

Dalam perkuliahan pop culture, apa saja yang anda ajarkan?

Banyak hal, tetapi salah satu pesan utama yang selalu saya sampaikan adalah bahwa manga dan anime Jepang yang sekarang diapresiasi secara luas, dulu sama sekali tidak dianggap wajar atau diterima begitu saja. Pernah ada masa ketika manga dicap sebagai sesuatu yang “memberi pengaruh buruk bagi anak-anak”, bahkan karya-karya Osamu Tezuka pun menjadi sasaran kritik. Kini manga justru telah menjadi salah satu kebanggaan budaya Jepang. Perubahan ini saya jelaskan dengan menautkannya pada konteks sosial di tiap zamannya.
Selain itu, sesuai minat mahasiswa, kami juga membahas berbagai topik seperti gender, bahasa, kajian genre, hingga studi tentang kreator tertentu.

Bagaimana kesan Anda terhadap lingkungan kerja di Jepang?

Saya memang hanya pernah bekerja di Kyoto Seika University dan Kyoto International Manga Museum, tetapi menurut saya lingkungannya sangat terbuka dan egaliter, dengan suasana yang memungkinkan orang saling bertukar pendapat secara bebas.
Mungkin juga karena karakter bahasa Jepang, komunikasi di tempat kerja terasa sangat mengutamakan perhatian dan empati terhadap orang lain. Berada dalam budaya seperti ini membuat saya sendiri jadi lebih berhati-hati dalam memilih kata dan bersikap kepada orang lain.

Apakah Anda sadar akan kewarganegaraan Anda saat bekerja di Jepang?

Sekitar tujuh tahun setelah tinggal di Kyoto, saya sempat mengalami fase kebingungan soal identitas diri. Saat itu saya memutuskan untuk cuti kuliah, lalu menghabiskan satu tahun belajar di Prancis dan Kanada, serta bepergian sendirian ke berbagai tempat. Dari pengalaman itulah saya sampai pada tekad untuk hidup sebagai “seorang manusia” tanpa terikat pada label kewarganegaraan.
Sekarang pun saya jarang memikirkan perbedaan apakah saya orang Jepang atau orang Korea. Bahkan jika orang lain menyinggung hal itu, saya cenderung tidak terlalu menanggapi—seolah memilih untuk berada di posisi tanpa kewarganegaraan tertentu.
 
Meski begitu, memahami nilai-nilai, etika, dan cara berinteraksi dalam masyarakat Jepang tetaplah penting, dan mampu menggunakannya sesuai situasi juga diperlukan. Kyoto, dengan banyaknya orang asing dan keberagaman budaya yang hadir secara alami, menurut saya adalah tempat yang sangat baik untuk menumbuhkan keseimbangan semacam itu.


Menurut Anda, apakah Jepang merupakan negara yang mudah untuk bekerja bagi mahasiswa internasional?

Jika dibandingkan dengan 20 tahun lalu saat saya mulai tinggal di Kyoto, saya merasa Jepang sudah berubah cukup jelas. Di masa saya masih mahasiswa, jumlah mahasiswa internasional yang kemudian bekerja di Jepang hanya sekitar 10–20 persen. Sekarang, saya merasakan angka itu meningkat secara nyata.
Dari sisi Jepang sendiri, kesadaran untuk menyiapkan lingkungan yang lebih ramah bagi orang asing juga semakin tinggi. Namun, baik pihak penerima maupun mahasiswa internasional sama-sama perlu saling mendekatkan diri. Menerima keberagaman itu penting, tetapi pada saat yang sama kita juga perlu saling percaya pada “rasa kemanusiaan universal” yang kita miliki. Dengan memegang kedua sudut pandang tersebut, saya yakin hubungan yang lebih baik bisa terbangun.

Apa target atau tujuan Anda ke depan?

Pada tahun akademik ini, proposal hibah penelitian yang saya ajukan diterima, dan saya sedang meneliti tema “Penerimaan Manga Jepang di Eropa”. Di Eropa Barat, sudah sekitar 40 tahun sejak manga Jepang benar-benar diterima secara luas, dan di sana telah terbentuk semacam “ekosistem manga” yang khas. Saya meneliti karakteristik ekosistem tersebut serta pengaruhnya terhadap Jepang. Ke depannya, saya berharap penelitian ini dapat diwujudkan dalam bentuk pameran di museum manga, dan saya ingin terus melakukan pekerjaan yang menghubungkan Jepang dan dunia melalui manga sebagai medium.

Pesan untuk Anda yang sedang mempertimbangkan studi ke Jepang

Yang paling utama, belajar bahasa Jepang itu sangat penting. Kemampuan berbahasa bukan sekadar keterampilan, tetapi juga kunci untuk memahami budaya dan masyarakat Jepang. Tidak perlu sempurna, namun dengan memiliki sikap untuk terus belajar, pengalaman Anda di Jepang akan menjadi jauh lebih kaya.
Selain itu, masa mahasiswa adalah waktu yang sangat berharga untuk bersentuhan dengan banyak karya. Jangan hanya terpaku pada genre manga atau anime yang Anda sukai, cobalah juga menjelajahi genre yang belum pernah Anda sentuh. Saya yakin Anda akan menemukan “dunia baru” yang tak terduga.

Buku yang disunting dan diawasi penyusunannya oleh Kyoto International Manga Museum dan International Manga Research Center. Yoo-san juga terlibat dalam penulisan serta supervisi versi terjemahan bahasa Inggrisnya.

Kembali ke daftar