Mari Belajar di Jepang Melalui Jalur Beasiswa MEXT Program Research Students
2026.03.06
Pengalaman Teman-Teman Sesama Penerima MEXT di Seluruh Jepang
A-san dari Kobe University
A-san menjalani 12 bulan (dua semester) sebagai research student. Ia sudah memiliki gelar master di negaranya, tetapi ingin mengambil Ph.D. di bidang yang sama sekali berbeda di Jepang. Karena pergeseran bidang yang cukup ekstrem, dosennya menyarankan untuk mengambil program master lagi di Jepang. Ia juga harus menghadapi ujian masuk berupa esai, tes bahasa Jepang level N2, dan wawancara.
Pelajaran penting:
Masa research student sangat membantu untuk adaptasi akademik, terutama jika berpindah bidang atau harus mempersiapkan ujian masuk.
K-san dari Kyoto University
K-san menjalani 24 bulan (empat semester) sebagai research student karena universitasnya mewajibkan ujian masuk bagi semua pendaftar pascasarjana. Awalnya ia dibimbing oleh profesor yang mendekati masa pensiun, sehingga kemudian ia melanjutkan studi dengan pembimbing lain. Selama masa transisi ini, ia mempersiapkan ujian masuk sambil bekerja paruh waktu, melakukan fieldwork, kegiatan relawan, dan traveling.
Pelajaran penting:
Walaupun pergantian dosen pembimbing pada prinsipnya tidak diperbolehkan, dengan alasan yang jelas dan prosedur administrasi yang tepat, hal ini masih memungkinkan untuk dilakukan selama masa research student.
M-san dari Tokyo University of the Arts
M-san menjalani 18 bulan (tiga semester). Semester pertamanya dihabiskan untuk kursus bahasa Jepang intensif. Karena universitasnya juga mewajibkan ujian masuk, ia memerlukan waktu tambahan untuk persiapan. Selama masa ini, ia mengikuti kelas, kegiatan mahasiswa, dan seminar riset dosen pembimbing.
Pelajaran penting:
Pembelajaran bahasa Jepang intensif tidak harus dilakukan di universitas kita. Jika universitas kita tidak menyediakan kelas bahasa Jepang internal, biasanya mereka akan mencarikan lembaga eksternal. Masa research student bisa dimanfaatkan untuk belajar bahasa, merancang riset, dan persiapan ujian.
Pengalaman Lain & Hal yang Perlu Diwaspadai
Walaupun terdengar fleksibel dan “santai”, tidak semua kisah research student berakhir bahagia. Seorang kenalan pernah menjalani dua tahun sebagai research student di Osaka University karena persyaratan ujian masuk. Sayangnya, ia gagal ujian dan harus pulang tanpa gelar. Konon, ia jarang berkomunikasi dengan dosen pembimbing dan terlalu fokus bekerja paruh waktu dibanding kegiatan akademik. Kita memang tidak tahu detail pastinya, tapi ini mengingatkan satu hal penting: tugas utama MEXT research student adalah belajar. Hal lain di luar kegiatan akademik tetaplah nomor dua.
Bagaimana Cara Menjadi MEXT Research Student?
Langkah awalnya sederhana: pantau situs Kedutaan Besar Jepang di negaramu, terutama sekitar bulan Maret–Mei, saat pengumuman beasiswa MEXT biasanya dibuka.
Sambil menunggu pengumuman resmi, kamu bisa mulai mempersiapkan dokumen dengan melihat panduan tahun sebelumnya. Walaupun detailnya bisa berubah, dokumen inti seperti proposal riset, transkrip nilai, surat rekomendasi, dan paspor biasanya tetap sama. Persiapan lebih awal akan sangat mempermudah proses pendaftaran.
Penutup
Jika kamu tertarik kuliah di Jepang tetapi masih ragu untuk langsung masuk program gelar, jalur research student bisa menjadi jembatan yang ideal. Kamu akan punya waktu untuk beradaptasi, mempersiapkan hal-hal akademik, belajar bahasa, mengeksplorasi topik riset, dan menata kehidupan di Jepang, semuanya dengan dukungan penuh dari MEXT.

Jika jalur ini terasa cocok, jangan ragu untuk mencoba mendaftar “Beasiswa MEXT Program Research Students Jalur Government to Government (G to G)” di negara Anda. Siapa tahu ini akan menjadi awal dari babak hidup yang benar-benar mengubah arah perjalanan kamu di Jepang.
Sampai jumpa di Jepang!
(Teks: Dhini, Ritsumeikan University)







