Tempat yang Selalu Mengundang Pertanyaan — Alasan Mengapa Kyoto Terus Menarik Hatiku
2025.12.24

Stasiun Kyoto
Saat ini aku adalah mahasiswa tahun keempat di Faculty of Business Administration Ryukoku University, dan akan segera memasuki tahun kelima studiku di Jepang. Aku menghabiskan tahun pertama di Tokyo untuk mempersiapkan ujian masuk universitas, dan kemudian menghabiskan empat tahun berikutnya tinggal sebagai mahasiswa di Kyoto.
Kyoto—sebuah kota yang terasa luas, sekaligus sempit. Sudah tiga tahun berlalu, namun rasanya aku masih belum benar-benar menjelajahi seluruh sudutnya. Kota ini begitu dalam dan luas, tetapi pada saat yang sama, kuil dan tempat suci kecil yang tersebar di berbagai penjuru justru memiliki daya tarik aneh, seolah-olah mampu menarik dan menampung semua pikiranku.
Bagaimana Kyoto Menjadi Bagian dari Awal Perjalananku
Sebenarnya, aku sudah merasakan ikatan khusus dengan Kyoto jauh sebelum aku memutuskan untuk belajar di Jepang.
Saat masih SMP, aku sangat menyukai anime dan sangat tertarik dengan kisah cinta antara Shinichi dan Ran di “Detective Conan.” “Arc Perjalanan Sekolah” ditayangkan sekitar waktu itu, dan aku terpikat oleh suasana romantis yang digambarkan di Kyoto pada musim gugur, terutama latar Kuil Kiyomizu-dera, dan aku mulai sangat berharap bahwa “suatu hari nanti aku juga akan mengalami pemandangan seperti dunia itu.”
Pada musim panas setelah lulus SMP, akhirnya aku untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Kyoto. Aku sempat mengunjungi Kiyomizudera yang sejak lama ingin kulihat, tetapi saat itu bangunannya sedang dalam proses renovasi besar-besaran, sampai-sampai atap gentengnya pun tidak terlihat. Meski begitu, entah mengapa perasaanku tidak mengecil sama sekali. Justru di tengah suasana yang tenang itu, aku bisa merasakan kehalusan Kyoto sebagai sebuah kota, sekaligus alur waktu yang mengalir perlahan di dalamnya.
Pohon-pohon sakura di Sannenzaka masih ada di sana, dedaunan hijau segarnya berkilauan di bawah matahari terbenam dan bergoyang tertiup angin. Pada saat itu, aku merasa seolah-olah pohon-pohon sakura itu dengan lembut berjanji bahwa aku pasti akan kembali ke tempat ini lagi.
“Mengapa Kyoto?” — Sebuah Kebingungan
Dengan kerinduan yang masih membekas di hati, aku memutuskan untuk belajar di Jepang. Seperti banyak mahasiswa internasional lainnya, aku menghabiskan tahun pertamaku di Tokyo.
Tokyo benar-benar ramai, dipenuhi cahaya dan orang-orang ke mana pun aku pergi. Lampu neon menerangi Persimpangan Shibuya sepanjang malam, dan lampu-lampu distrik Kabukicho di Shinjuku berkilauan tanpa henti. Di sebelah utara pintu keluar barat Ikebukuro, berbagai aksen terdengar, aroma masakan yang familiar tercium di udara, dan gedung-gedung pencakar langit Otemachi menjulang dalam kegelapan seperti monster baja raksasa yang menyedot semangat orang-orang. Dalam suasana Tokyo yang menyesakkan, kelelahan karena belajar untuk ujian masuk, aku mulai merasa bahwa jika aku tinggal di sini, aku mungkin akan kehilangan akarku.
Tanpa aku sadari, aku mulai menghitung mundur hari-hari sampai aku bisa pindah ke Kyoto.


Sekitar waktu itu, guru dan teman-temanku berulang kali bertanya, “Mengapa kamu memilih Kyoto?” Setiap kali, aku memberikan jawaban yang berbeda. “Karena aku ingin berjalan-jalan di sekitar Kuil Kiyomizu-dera di musim gugur saat dedaunan berubah warna,” “Karena Kyoto memiliki budaya yang kaya,” “Karena universitas yang ingin aku masuki berada di Kyoto” — semua itu benar, tetapi aku merasa tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi inti alasanku.
Aku memang menuju Kyoto, tetapi gambaran tentang apa yang sebenarnya ingin kucapai masih terasa samar. Meski begitu, ada satu hal yang sejak awal terasa pasti: ada perasaan bahwa di Kyoto, aku bisa kembali menemukan titik awalku. Di kota yang tenang, mendalam, dan memiliki alur waktu yang terasa begitu lembut ini, aku merasa seolah akhirnya bisa menemukan tempat di mana aku boleh berkata pada diri sendiri, “aku boleh berada di sini.”
Itulah alasan mengapa aku memilih datang ke Kyoto.







