Sebuah Catatan Keikutsertaan dalam Program Kyoto Premium Experience & Exchange Program
~Dari Pemecahan Misteri, Kisah Sang Naga, hingga Kehangatan yang Membekas di Hati Mahasiswa Internasional~
2025.12.24

Halo semuanya, perkenalkan, saya Xiao Shoki, mahasiswa tingkat akhir Faculty of Business Administration, Ryukoku University. Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi kembali pengalaman saya mengikuti Program Kyoto Premium: Pengalaman dan Pertukaran Budaya yang saya ikuti pada Sabtu, 8 November, dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa internasional.
Berlari Menyusuri Eigamura: Memecahkan Teka-teki Sambil Perlahan Mendekatkan Jarak Bahasa dan Budaya
Sekitar pukul delapan pagi, saat langit Kyoto baru mulai terang, para mahasiswa internasional dari berbagai negara dan universitas berkumpul di Stasiun Kyoto. Sebagian besar dari kami baru pertama kali bertemu, tetapi suasana “akan memulai satu hari yang istimewa bersama” secara alami mencairkan kekakuan di antara kami. Perjalanan dengan bus menuju Toei Kyoto Studio Park terasa seperti adegan pembuka sebuah film: membuat dada berdebar, membayangkan kejutan apa yang menanti setelah ini.
Salah satu anggota tim saya, seorang kakak perempuan asal Cile, meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Ia datang ke Jepang pada usia 38 tahun dan memulai hidup baru di tengah bahasa yang belum sepenuhnya dikuasai, sambil menantang dirinya untuk terjun ke dunia desain. Di balik sikapnya yang tenang, terasa tekad yang kuat. Melihatnya berusaha keras menyimak penjelasan dalam bahasa Jepang dan tetap aktif berdiskusi dengan sungguh-sungguh benar-benar menyentuh hati saya.
Begitu permainan dimulai, barulah terasa bahwa tantangan sesungguhnya baru saja dimulai. Permainan “escape room” yang pernah saya mainkan di Tiongkok biasanya berfokus pada mencari mekanisme tersembunyi untuk keluar dari ruangan. Namun, permainan teka-teki yang saya mainkan di Jepang kali ini sama sekali berbeda. Latar kota Edo, rumah samurai, set film, hingga karakter NPC, semuanya menjadi bagian dari teka-teki. Rasanya seperti melakukan adu kecerdasan di dalam dunia drama sejarah.
Hambatan terbesar tentu saja adalah bahasa Jepang. Semua petunjuk, dialog, dan penjelasan disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Jepang. Banyak kosakata yang baru bagi saya, dan teka-teki yang mengandalkan permainan kata atau latar budaya terasa semakin sulit dipahami. Di saat seperti itu, seorang mahasiswi Jepang dalam tim kami dengan sabar menjelaskan maknanya satu per satu, sehingga kami bisa kembali menemukan jalan. Dan ketika akhirnya kami berhasil sampai pada jawaban, rasa “oh, ternyata begitu!” itu meninggalkan kepuasan mendalam sekaligus sebuah pencapaian yang melampaui batas bahasa.
Permainan teka-teki ala Jepang bukan tentang menggunakan tubuh, melainkan mengasah pikiran. Bukan mencari jebakan tersembunyi, tetapi menafsirkan kata dan ide. Ini bukan sekadar permainan, melainkan pengalaman menyeluruh yang menantang pemahaman budaya dan kemampuan berbahasa.
Kami berlarian sambil berkeringat, berdiskusi, menebak, gagal, lalu mencoba lagi. Dan ketika akhirnya seluruh tim berhasil menyelesaikan tantangan bersama, di sana tercipta hubungan yang nyata dan melampaui perbedaan kewarganegaraan dan bahasa ibu.


Naga di Tenryū-ji: Tradisi, Sebab-akibat, dan Pembelajaran untuk “Melihat Lebih Dalam dari Apa yang Tampak”
Setelah permainan pemecahan teka-teki berakhir, kami kembali naik bus dan menuju Arashiyama. Suasana di dalam bus langsung berubah menjadi lebih santai. Aku pun asyik mengobrol dengan seorang mahasiswi Jepang tentang drama dan aktor favorit. Ketika ia mengatakan bahwa dirinya penggemar Zhao Lusi, aktris asal Tiongkok, aku merekomendasikan drama terbarunya Xu Wo Yao Yan. Dari situ, kami saling berbagi hal-hal yang kami sukai dan obrolan kami mengalir ke Masaki Suda, Kenshi Yonezu, hingga MRS. GREEN APPLE…
Sesampainya di Kuil Tenryū-ji, kami masuk ke aula utama (Hattō) dan mendengarkan penjelasan dari kepala biksu. Sambil berjalan di dalam aula dan menatap lukisan naga di langit-langit, aku merasakan seolah-olah tatapan sang naga selalu mengikuti ke mana pun aku bergerak. Kesan yang begitu kuat dan menggetarkan membuatku benar-benar memahami, lewat pengalaman langsung, mengapa lukisan itu disebut “naga bermata delapan arah”.
Kepala biksu kemudian menjelaskan mengapa naga sering digambarkan di aula utama kuil. Sejak zaman dahulu, naga dipandang sebagai simbol pelindung ajaran Buddha sekaligus penjaga bangunan kayu dari bahaya kebakaran. Lukisan naga di Tenryū-ji merupakan karya Kayama Matazō, dan yang menarik, naga tersebut memiliki lima cakar, sebuah ciri yang tergolong langka di Jepang. Lima cakar secara tradisional melambangkan kedudukan tertinggi, seperti kaisar di Tiongkok atau kaisar Jepang, sehingga hingga era Meiji, penggunaan motif ini cenderung dihindari. Namun, ketika lukisan baru dibuat pada era Heisei, justru lima cakar dipilih dengan sengaja. Alasannya sederhana: zaman telah berubah, dan tidak semua nilai lama harus terus dipertahankan tanpa dipertanyakan.
Mendengar penjelasan itu, aku tiba-tiba merasa bahwa kisah ini bukan hanya tentang Tenryū-ji. Budaya memang diwariskan, tetapi ia juga terus diperbarui seiring waktu. Begitu pula kita, orang-orang yang hidup di tengah perjumpaan lintas budaya, yang senantiasa berubah dan bertumbuh.
Ada satu kalimat dari sang kepala biksu yang tertinggal kuat di hatiku: “Segala sesuatu memiliki sebab dan akibat. Jangan menilai hanya dari apa yang terlihat.”
Kita sering kali terlalu cepat menarik kesimpulan berdasarkan bentuk yang tampak di depan mata. Padahal, memahami berarti berusaha melihat alasan yang tersembunyi di baliknya. Sambil mendengarkan suara angin yang menyapu taman batu, aku menyadari bahwa selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional, aku pun perlahan belajar mengasah kemampuan untuk melihat lebih jauh dan melampaui sekadar penampakan luar.









